Media Sosial Jembatan Toleransi

Ilustrasi. (Thinkstock)

Jakarta: Dunia maya dan media sosial memiliki dua mata pisau. Keduanya bisa mencerahkan publik, namun juga berpeluang menciptakan konflik antar sesama.

Putri Novita Sari, salah seorang peserta pelatihan juru bicara Pancasila, mengaku merasakan dampak positif dari media sosial. Dia bercerita pengalaman persahabatan yang manis dengan seorang temannya yang berbeda agama. Dia lebih merasakan ketulusan persahabatan dari teman dunia maya daripada di dunia nyata. 

“Kami waktu itu kenalan di internet. Makin lama makin dekat lalu tahu bahwa kami tengah sama-sama sakit. Kami pun bergantian saling menguatkan satu sama lain hingga akhirnya sembuh,” ujar Putri di Hotel Neo, Pontianak, Senin, 8 Oktober 2018.

Keterlibatan kaum lintas agama, ras dan etnis dipercaya membuat generasi milenial akrab dengan media sosial yang pluralis. Dalam pelatihan ini juru bicara ini, para peserta juga dibekali dengan skill penulisan, berdebat dan manajemen medsos. Dengan begitu, medsos digunakan menggaungkan keberagaman.

“Tuhan memberi kesengajaan untuk menciptakan kita berbeda-beda,” kata Sholehuddin A. Aziz, salah seorang trainer juru bicara Pancasila.

Perbedaan juga keniscayaan yang harus dihadapi dengan lapang dada. Pelatihan ini adalah rangkaian dari sejumlah pelatihan yang diselenggarakan oleh Komunitas Bela Indonesia (KBI) di 25 provinsi. 

Perwakilan dari tiga etnis berbeda di Kalimantan Barat yaitu Tiongkok, Dayak, dan Melayu dilibatkan dalam pelatihan ini. Adapula perwakilan dari agama Islam, Katolik, Kristen, dan Buddha.

Pelatihan ini mengacu pada buku panduan berjudul Rumah Bersama Kita Bernama Indonesia. Buku itu ditulis oleh Denny JA dan Tim. 

Kegiatan ini dinilai bermanfaat bagi anak-anak muda lintas agama. Sebab, bisa mempertemukan anak-anak muda yang memiliki kepedulian untuk merawat Indonesia yang damai dan beragam.

(AZF)